Beranda Pemprov Sulut Aksi Jilid II Gerakan Kopra Sulut di Pemprov, “Warning For Pemerintah”

Aksi Jilid II Gerakan Kopra Sulut di Pemprov, “Warning For Pemerintah”

204
0
BERBAGI

MANADO lensasulut.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Kolektif Perjuangan Rakyat Sulawesi Utara melakukan demo di Kantor Pemprov Sulut, Kamis (29/11). Ini merupakan aksi jilid II setelah sebelumnya melakukan aksi di Deprov Sulut. Massa yang tiba sekira pukul 10.30 Wita itu langsung berorasi. Mahasiswa menuntut pemerintah provinsi segera mengambil langkah-langkah taktis untuk mengstabilkan harga kopra. Mereka juga meminta pemerintah membuat regulasi peraturan daerah untuk mengontrol harga komoditas pertanian, khususnya kopra.

Tuntutan lain yang diajukan adalah pemerintah harus menghadirkan BUMD untuk mengelola dan memproduksi hasil pertanian kopra sebagai bentuk industrialisasi di sektor pertanian. Salah satu orator meminta pemerintah membuat MoU yang tujuannya adalah untuk mendongkrak harga kopra. “Pemerintah jangan hanya diam. Para petani sudah melarat,” kata mahasiswa.

Mahasiswa kemudian menuntut agar pemerintah bisa mengeluarkan MoU agar ada perubahan kopra. Di hadapan mahasiswa, Asisten II Rudi Mokoginta yang menerima aksi tersebut menjelaskan, pemerintah sudah melakukan terobosan untuk menaikkan harga kopra. Diantaranya melakukan market inteligen serta studi capacity building di Belanda. Pemerintah juga sudah meminta agar Pertamina membeli kopra. “Terobosan lain adalah dengan membuka kran ekspor sebesar-besarnya khusus kelapa biji,” katanya.

Hal sama juga disampaikan Karo Ekonomi Frangki Manumpil. Dikatakan kalau pemerintah juga sudah melobi Pertamina untuk membeli kopra dari petani. “Salah satu bahan campuran untuk pembuatan solar berasal dari kopra. Ini yang kita upayakan,” jelasnya.

Para mahasiswa yang menuntut kenaikan harga kopra mendatangi Pemprov Sulut. (foto, Rudi Loho)

Tak puas hanya melakukan orasi, mahasiswa menuntut Pemprov membuat kesepakatan tertulis agar ada perubahan harga kopra hingga 10 Desember nanti. Namun upaya itu tidak tercapai. Pihak Pemprov kemudian menawarkan agar perwakilan mahasiswa masuk dan berdiskusi. Tawaran itu diterima, perwakilan mahasiswa kemudian diizinkan masuk. Sekira pukul 14.00 Wita, Asisten II dan perwakilan mahasiswa keluar. Asisten II kemudian menyerahkan hasil kesepakatan tersebut ke mahasiswa. Para pendemo kemudian meminta agar kesepakatan itu bisa ditindaklanjuti.

Eko Yahya, humas aksi mengatakan, pihaknya akan mengawal kesepakatan yang sudah dibuat kedua belah pihak. “Kami akan awasi apa yang sudah dijanjikan pemerintah hingga akhir tahun ini. Jika tidak terlaksana, kami akan turun lagi dengan aksi jilid tiga,” pungkasnya.

Aksi yang berjalan damai itu dikawal puluhan aparat kepolisian. Menariknya, saat melakukan aksi, aparat berhasil mengamankan sebotol bensin, ban serta sebuah tabung gas elpiji yang diduga akan digunakan saat aksi berlangsung. Selain aksi jilid dua, ada juga elemen mahasiswa lain yang mengangkat isu serupa. Aksi yang mengatasnamakan Ampera atau amanat penderitaan rakyat ini meminta pemerintah memperjuangkan kenaikan harga kopra. (fat) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here