Beranda Bolmong Timur Demi Sekolah,  Para Siswa Panang Rela Jalan Kaki Dua Kilometer

Demi Sekolah,  Para Siswa Panang Rela Jalan Kaki Dua Kilometer

522
0
BERBAGI

BOLTIM, lensasulut.com–Saat matahari menyapa semesta di pagi hari, para siswa Sekolah Dasar (SD) di Dusun 5 Panang, Desa Kotabunan, Kecamatan Kotabunan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), mulai menapakan kaki berangkat ke sekolah  hingga dua kilometer.
Meski begitu,  senyuman manis masih terpampang jelas di raut wajah mereka. Perjalanan menuju ke sekolah pun begitu cepat biar tidak terlambat.
Patria Paputungan (10) mengatakan, ia sering berjalan kaki berombongan kalau ke sekolah, kadang kalau ada motor diantar oleh ayahnya.
“Kami masing masing berjalan berombongan. Sering kali enam orang karena yang lain sudah dapat tumpangan. Tapi kalau ada motor sering diantar oleh bapak,” ucap siswa yang masih duduk di bangku kelas 5 SD ini.
Senada dengannya, Iriyandi Paputungan Siswa Kelas 6 SD dan Fina Paputungan Siswi Kelas 5 SDN Center. Kedua siswa ini terpaksa memilih jalan kaki karena faktor ekonomi.
“Karena tidak ada motor dan untuk uang bayar ojek tidak ada, terpaksa kami memilih jalan kaki,” kata keduanya dengan polos.
Menurut Rinardi Tooy (38), warga Dusun 5 Panang, berjalan kaki sampai beberapa kilo meter sudah menjadi kebiasaaan siswa-siswi Panang saat bersekolah. Alasan utamanya karena tidak ada fasilitas kendaraan begitu juga untuk bayar ongkos ojek mereka tidak mampu.
“Anak-anak disini (Panang-red), sudah biasa berjalan kaki sampai dua kilometer. Itu disebabkan karena tidak ada kendaraan. Memang ada ojek tapi untuk ongkos mereka tidak mampu karena pergi pulang biayanya dua puluh ribu rupiah,” ujar Tooy saat di wawancarai lensasulut.com, Kamis (29/11/2018).
Biasanya lanjut Tooy, anak-anak sekolah bangunnya jam 06.00 WITA kemudian mandi. Kalau sempat ya sarapan. “Pukul setenga tujuh mereka sudah berangkat agar tidak terlambat,” ujarnya.
Kata adi lagi, SDN 1 Kotabunan (SD Center), berjarak kurang lebih 2 kilometer dari Dusun 5 Panang. Sehingga anak-anak tersebut harus berjalan sekitar 4 kilometer pulang pergi setiap mereka sekolah.
“Jarak tempuh yang mereka lalui begitu jauh, sehingga sebagian anak-anak terkadang enggan bersekolah. Namun jika beruntung, para anak-anak SD ini bisa menumpang motor petani atau warga saat bersua di jalan meskipun hal itu jarang- jarang mereka temui,” imbuhnya.
Sementara Utung Mamonto, warga Kotabunan Barat mengaku sering  melihat anak anak SD yang berjalan kaki dan dia sering  memboncengi beberapa anak karena merasa ibah.
“Sering 4 anak saya bonceng karena sayang. Kasiankan generasi penerus. Takutnya berjalan kaki dan ada motor menyambar mereka. Sehingga jika barsua dengan mereka, saya langsung bonceng,” ungkap Mamonto.
Kabarnya meski telah bangun sejak pukul 06.00 dan berangkat jam 06.30 Wita  namun beberapa siswa Dusun 5 Panang ini biasanya terlambat sampai di sekolah. Guru-guru pun sudah memahami dengan kondisi anak-anak panang ini.
Femi Mamangkey salah satu guru yang juga wali kelas 6 di SD Center Kotabunan ini mengetahui betul kondisi anak-anak tersebut. Dia mengaku pihak sekolah pun memahami kondisi siswa yang harus berjalan hingga beberapa kilometer tersebut.
“Kadang kalau mereka sampai di sekolah sering terlambat Tapi kami sudah memaklumi karena memang rumah mereka jauh dan harus jalan kaki. Dan kalau mereka selalu terlambat,  sanksinya cuman disuruh angkat sampah,” terang Mamangkey.
Kepala Dusun 5 Kotabunan Rudi Sariambapu mengatakan, untuk transportasi bagi anak-anak panang sudah sering di usulkan di Musayawara Dusun,  Desa dan Kecamatan tapi belum ada realisasinya.
“Sebagai kepala dusun 5 saya juga sangat prihatin dengan kondisi anak-anak SD yang berada di Panang.  Saya juga sudah mengusulkan di Musrenbang Dusun. Desa dan Kecamatan tapi sampai hari ini belum ada realisasinya,” sebut Rudi sembari berharap tahun depan sudah ada mobil khusus untuk mengantar  anak-anak  SD yang tinggal di Panang agar tidak ada lagi siswa yang berjalan kaki kesekolah. (rey)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here