Beranda Bolmong Timur Penderita Kusta Terus Meningkat, Dinkes Boltim Lakukan Pencegahan Lewat Program ini.

Penderita Kusta Terus Meningkat, Dinkes Boltim Lakukan Pencegahan Lewat Program ini.

104
0
BERBAGI
penyakit kusta (foto ilustrasi)

BOLTIM lensasulut.com -Jumlah penyakit kusta di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) teridentifikasi cukup banyak. Selang 2015 hingga 2018 jumlah penderita kusta sebanyak 32 orang, Minggu (27/01).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Boltim, penderita Kusta tahun 2015 ada tujuh (7) kasus, 2016 tiga (3), 2017 enam (6), 2018 enam belas (16) kasus. Dan untuk tahun 2019 sementara diindentifikasi.

Kepala Seksi Pencegahan dan Penangulangan Penyakit (P2P), Aviv Sangki, mengatakan, setiap tahun jumlah pasien kusta mengalami peningkatan. Pihaknya pun rutin melakukan identifikasi kasus di 80 desa.

Kata Dia, peningkatan penyakit tersebut dikarenakan masyarakat yang sakit tidak mau berobat. “Sehingga kami turun langsung ke desa dan ternyata cukup banyak penderitanya empat tahun ini,” ujarnya.

Dijelaskannya, metode yang digunakan saat mengindentifikasi korban, Yakni lewat program ICF dan Frambusia (infeksi pada kulit, tulang dan sendi sebab oleh bakteri. “Indentifikasi melalui program ICF dan Frambusia,” sebutnya.

“Kami akan rutin lakukan indentifikasi. Bisa jadi tahun ini jumlahnya akan bertambah. Karena banyak para korban tidak mau berobat. Mereka menganggap penyakit tersebut adalah kutukan atau dosa, sehingga mereka malu,” bebernya.

Terpisah, Dokter Jilly Suatan, menjelaskan, kusta merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium. Dimana memiliki gejala seperti timbulnya bercak merah dikulit, mati rasa, timbul luka kecil tapi tidak terasa sakit dan banyak gejalan lainnya.

“Kusta merupakan penyakit yang memamg disebabkan oleh bakteri. Jika tidak segera diobati korban akan mengalami kecatatan,” jelasnya.

Dia pun mengimabu kepada seluruh korban yang sudah memiliki ciri-ciri penyakit kusta untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Agar memperoleh pengobatan melalui pemberian antibiotik. “Tidak perlu malu untuk berobat, karena kusta juga bagian dari penyakit yang harus disembuhkan, ” imbaunya.

Sementara itu Kepala Bidang Pencegahan dan Penangulangan Penyakit (P2P) dan Wabah, Sammy Rarung menekankan awalnya Boltim daerah indemis. Namun dengan adanya program dari ICF, maka ditunda karena adanya penemuan kasus tersebut.

“Kami akan berupaya 2019, banyak teridentifikasi kasus kusta, agar langsung dilakukan penanganan. Karena penanganan kusta kering lama pengobatannya 6-8 bulan dan basah 8-10 bulan. Obat ini gratis diberikan,” tukasnya. (rey)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here