Beranda Bolmong Timur AGC Bersama Pemkab Boltim Gelar Sosialisasi Tentang Bahaya Merkuri

AGC Bersama Pemkab Boltim Gelar Sosialisasi Tentang Bahaya Merkuri

64
0
BERBAGI

TUTUYAN lensasulut.com — Meningkatnya pengelolaan emas dengan cara menggunakan bahan kimia merkuri di Wilayah Bolaang Mongondow Timur (Boltim) menjadi perhatian serius oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Menggandeng yayasan Canada Artisanal Gold Council (AGC) lewat program Emas Rakyat Sejahtera, DLH Pemkab Boltim bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulut menggelar sosialisasi dengan tema: Menghadapi Tantangan Pertambangan Skala Kecil di Kabupaten Boltim. Hal ini menjadi tolak ukur Pemkab dalam meminimalisir penggunaan bahan kimia merkuri di wilayah penambangan Boltim.

Kepala DLH Syukri Tawil mengatakan, air raksa atau dikenal dengan merkuri ini sangat berbahaya untuk kesehatan manusia.

Menurutnya, hingga saat ini banyak usaha-usaha tambang di Boltim melakukan praktek pengelohan emas dengan menggunakan bahan kimia merkuri sebagai alat pemisah kandungan logam emas dari bebatuan. Sehingga lanjut dia, banyaknya bahan kimia merkuri yang digunakan sangat membahayakan bagi kesehatan dan lingkungan.

“karena metode pengolahan seperti ini tidak boleh lagi dilakukan. Terlebih bila hasil limbah material hanya dibiarkan begitu saja usai pengolahan. Nantinya tanah sudah tercemar limbah berbahaya ini akan meresap ke dalam tanah kemudian ke rantai makanan,” papar tawil saat membawakan materi pada acara sosialisasi tentang program emas rakyat sejahtera bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) di RM Aisyah Desa Tutuyan, Rabu (31/7).

Dikatakan Tawil, DLH mempunyai solusi mengenai tentang metode pengolahan emas tanpa bahan kimia berbahaya, yakni dengan menggunakan metode Gravimetri

“Kami akan bangun di Tobongon satu-satunya pertambangan rakyat yang legal, karena tobongon sudah direkomendasikan oleh Kementrian. Jika sudah ada izin kami langsung eksen. Saat ini izin pengolahan metode gravimetri sedang dalam pengurusan. Tapi metode ini bisa di gunakan di mana saja yang ada kegiatan pertambangan,” ungkapnya.

“Ini menjadi perhatian kami dari DLH lebih khusus dari Yayasan AGC,” sambungnya.

Selain itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Eko Marsidi menjelaskan, merkuri jika berdiri sendiri tidak berbahaya. Namun kata dia, bahayanya merkuri ketika sudah dicampur dengan racun lain atau kontak langsung dengan manusia dan ikan.

“Merkuri ini ada di banyak tempat. Termasuk minyak goreng bekas dipakai untuk gorengan kemudian dipakai lagi untuk menggoreng yang lain dan terus menerus di gunakan sampai beberapa kali sudah mengandung merkuri. Itu merupakan contoh kecil,” jelas Marsidi.

“Masyarakat dapat memperhatikan kesehatan. Salah satu cara mencegah virus dari polusi udara yang ada di lingkar tambang gunakan masker sebagai pelindung. Saya sampaikan bahwa merkuri memiliki banyak jenis, seperi pewarna makanan, pewarna pakaian, dan ada juga untuk pelarut logam. Kesemuanya dapat mengakibatkan pernapasan jadi tidak bagus, sakit perut dan tidak fokus, itu adalah tanda-tanda umum yang akibatnya bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia,” timpalnya.

Lebih jauh Marsidi mengatakan, untuk Puskemas sendiri tidak lagi menggunakan alat yang mengandung merkuri.

“Menghindari bahaya merkuri, semua Puksesmas sudah menggunakan alat digital. Saya menginformasikan kepada masyarakat, untuk pelayanan kesehatan pihak Dinkes sudah membuka pos-pos pemeriksaan kesehatan. Bagi yang sakit atau Ingin konsultasi kesehatan bisa langsung ke pos kesehatan,” ucapnya.

Diskusi program AGC bersama AMAN Sulut ini melibatkan Pemkab Boltim melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan, Aliansi Masyarakat dan juga PERS. (rey)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here