MANADO, LensaSulut.com – Dalam rangka mempersiapkan agenda konsolidasi serta pelantikan kepengurusan, Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Provinsi Sulawesi Utara menggelar pertemuan pengurus pada Sabtu (15/11/2025).
Pertemuan tersebut turut dihadiri salah satu Penasehat GPII Sulut, Hanny Pantouw, usai gelaran Musyawarah Wilayah (Muswil) XII GPII yang dilaksanakan pada 1 November lalu di Manado. Muswil itu sendiri menetapkan Rezal Helmy Syaus sebagai Ketua GPII Sulut periode 2025–2028 melalui aklamasi.
Dalam arahannya, Hanny Pantouw yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Laskar Manguni Indonesia (LMI), menegaskan pentingnya GPII untuk terus tampil dan berkontribusi dalam pembangunan daerah. Ia juga menekankan bahwa GPII harus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga harmonisasi serta kerukunan yang telah terbangun di Sulawesi Utara.
“Ini menjadi keharusan dan tanggung jawab GPII bersama seluruh elemen masyarakat, karena ini juga menjadi tuntutan bangsa dalam menjaga toleransi di tengah keberagaman. Kebersamaan itu sudah kita mulai dari Sulawesi Utara dan harus terus dijaga,” ujar Hanny Pantouw.
Sebagai Tokoh Toleransi Nasional, Hanny turut menegaskan bahwa perbedaan agama bukanlah persoalan, sembari mengutip makna ayat Al-Qur’an ‘Bagimu agamamu dan bagiku agamaku’. Ia menekankan bahwa justru pada aspek sosial budaya dan kebersamaan, semua pihak harus terus merawat nilai-nilai toleransi sebagai panggilan kebangsaan.
Sementara itu, Ketua PW GPII Sulut, Rezal Helmy Syaus, menjelaskan alasan pihaknya menunjuk Pdt. Hanny Pantouw, S.Th, sebagai salah satu penasehat organisasi. Menurutnya, rekam jejak Hanny sebagai tokoh toleransi nasional dinilai mampu memberikan arahan dan keteladanan bagi GPII dalam merawat kebhinnekaan.
“Kami berharap kehadiran beliau dapat menularkan ilmu dan pengalaman tentang bagaimana merawat kebhinnekaan yang menyatukan perbedaan, sebagai panggilan bagi anak bangsa,” ujar Kang Emy, panggilan akrab Rezal Helmy Syaus.
(jefry)














