Beranda Life Style Keuletan dan Perjalanan Karir Seorang Yang Memilih Mengabdi di Bidang Pemerintahan

Keuletan dan Perjalanan Karir Seorang Yang Memilih Mengabdi di Bidang Pemerintahan

299
0
BERBAGI

Oleh: Dath Ligawa

BOLTIM, LensaSulut.com – Hari kamis, 4/6/2020, sejumlah pewarta sedang berada di Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan tujuan ingin mewawancarai Kepala Dinas (Kadis) yang dikenal rajin sholat. Kadis Drs.Moh. Hamdi Egam, merupakan Kadis yang baru didefinitifkan oleh Sehan Salim Landjar SH, seorang Bupati yang dikenal sangat dekat dengan rakyatnya. Dan ini dibuktikan selama dua periode memimpin Kabupaten ini, karena masyarakat masih menginginkannya memimpin kabupaten yang terletak di Bolaang Mongondow paling timur ini.

Perjalanan karir seorang yang memilih bekerja di bidang Pemerintahan, yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan Daerah Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Egam menjelaskan kepada media ini tentang perjalanan karirnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Boltim.

Pertama ia masuk Boltim, tahun 2010 akhir, tapi nanti dilantik sebagai pegawai pada tahun 2011 awal, dan menduduki jabatan sebagai sekretaris di Dinas Pembangunan Umum (PU). Dan itu berlangsung sekitaran 3 tahun.

Setelah tiga tahun menjabat sebagai sekretaris PU, Kemudian dipindahkan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), menduduki jabatan yang sama sebagai sekretaris.

“Sejak berpindah di lembaga teknis daerah bidang perencanaan dan pembangunan daerah, sempat menduduki kursi pimpinan sebagai Pelaksana Harian (Plh). Sebab Pak Sony Waroka (Sekretaris Daerah) sekarang ini, saat itu menjabat kepala Bappeda dan beliau ikut Pim II (Diklat Kepemimpinan Tingkat II). Nah, saya pelaksana harian. Cuman 6 bulan di Bappeda, kemudian ditarik lagi ke PU sebagai Sekretaris. Di PU selama sekitaran satu tahun lebih,” tutur Egam.

Ia juga menceritakan, di penghujung tahun 2014 ditarik lagi di Bagian Ekonomi. “Waktu itu masih ada Pjs, sempat ada roling juga waktu itu saya pindah di Bappeda bagian prasarana pada bulan Oktober 2015 selama 2 bulan, dan pada 4 Januari 2016 dipindahkan lagi sebagai Kabag Humas Setda Boltim,” ujar pria kelahiran Motoboy Besar, 16 juni 1964 ini.

Pria penunggang DB 22 N ini menuturkan, waktu menjabat sebagai Kabag Humas, itu hanya berlangsung selama satu tahun kemudian ia dipindahkan lagi ke Dinas Kominfo sebagai Sekretaris definitif selama satu tahun.

Tahun 2018, ia menggantikan Kadis Kominfo sebabagai Pelaksana Tugas (Plt). Pada waktu itu dijabat oleh Setiono, yang hengkang ke Dinas Pertanian. Selama 2 tahun 6 bulan, Hamdi Egam memimpin Dinas Kominfo, dan akhirnya didefinitifkan.

TIDAK MAU JADI GURU

Lingkungan 3, RT 5, Jalan T.G. Manoppo, Desa Motoboy Besar, di situlah alamat rumah Drs. Moh. Hamdi Egam. Meski tinggal di Kotamobagu, ia menjalani pendidikan di Kota Manado. Menempuh bangku kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Manado jurusan Teknik Sipil/Bangunan.

Semenjak kuliah, dirinya tidak menginginkan menjadi seorang guru. Setelah lulus perguruan tinggi, Hamdi Egam bekerja di perusahaan Sinar Lestari, di Kota Gorontalo yang bergerak di bidang kontraktor. Dia katakan kalau ia ingat betul, itu tahun 1994.

Selama enam bulan di Gorontalo, kesehatannya sempat terganggu sehingga terpaksa harus pulang ke kampung halamannya. Meski tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang guru, namun Hamdi mencoba ikut pengangkatan pada tahun 1995, dan ternyata lulus.

“Saya sebenarnya tidak mau jadi guru. Tahun 95. Kemudian coba-coba ikut pengangkatan, ternyata saya lulus,” ucap Kadis yang dikaruniai dua anak ini.

SUKA DUKA HAMDI EGAM SAAT MENGABDI DI BOLTIM

Pengabdian Hamdi Egam di Bolaang Mongondow Timur sebagai abdi negara ternyata banyak suka duka yang dilalui. Dijelaskannya, waktu menjadi Plh Kepala Dinas di Dinas PU, ada beberapa bidang yang kosong sehingga ditanganinya semua. Tapi baginya itu merupakan tanggung jawab moral sebagai abdi negara yang melayani masyarakat.

“Plh itukan Kadis merangkap Sekretaris. Pas ada kunjungan gubernur, bangunan auditorium sudah lubang-lubang dan itu disuruh perbaiki kepada kami (PU). Jalan-jalan yang kurang bagus disuruh timbun, baru ada pemeriksaan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), dan ada hearing DPR, kong kita pe bidang samua itu. Itu yang saya rasa berat,” tuturnya dengan dialek Manado.

“Ada eselon II yang sudah istirahat jam 12 siang, saya tidak. Saya berjalan terus. Tapi meskipun berat, saya tetap semangat karena saya memang mantan konsultan,” sambung mantan guru Sekolah Teknik Menengah (STM) ini.

Hamdi Egam (kanan) bersama Bupati Boltim, Sehan Landjar.

Hal yang ia rasakan itu, menurut Egam sudah lumrah sebab saat menjadi seorang guru di STM, tantangan seperti itu sudah sering ia lakoni.

“Waktu masih mengajar sebagai guru teknik gambar dan kontruksi, setelah keluar sekolah, saya langsung melaksanakan tugas sebagai konsultan perencana dan pengawas pembangunan dan rehab bangunan gedung sekolah yang tersebar di Daerah Bolmong Raya waktu itu,” jelas pria periang ini.

“Pada masa itu, kami ditunjuk oleh kementrian pendidikan nasional, penentuan paket-paket pekerjaan diterima di Jakarta dan laporan juga disampaikan langsung ke kementrian. Sehingga selama 8 tahun, dari tahun 2002 sampai dengan 2010 sebelum pindah di Boltim, saya sudah biasa kerja full/lembur sebagai pengajar sekaligus tenaga konsultan,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here