Beranda Catatan Dari Cerita “ Makan Tuch Seragam KOKAM, Hingga BANGKITNYA Kembali Pemuda Muhammadiyah...

Dari Cerita “ Makan Tuch Seragam KOKAM, Hingga BANGKITNYA Kembali Pemuda Muhammadiyah Bolmong

1611
0
BERBAGI
KOKAM dan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Dari Cerita “ Makan Tuch Seragam KOKAM, Hingga BANGKITNYA Kembali Pemuda Muhammadiyah Bolmong

Oleh : Syahrul, S. Pd

(Ketua Bidang Hikmah dan Hubungan Antar Lembaga Pemuda Muhammadiyah Bolmong)

Berangkat dari kisah sesama prajurit muda Muhammadiyah seperti yang kami rasakan saat ini sebagai kader dari pelosok, KOKAM dan Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) sebagai denyut kelangsungan Muhammadiyah di Daerah ini, turut tergelitik bersama semangat kami yang sedang berkobar. Memilukan sekaligus bangga, kisah tersebut saya ceritakan kembali bersama tekad dan niat Pemuda Muhammadiyah terhadap daerah tercinta dan Muhammadiyah di Bolaang Mongondow.

Di salah satu daerah yang saya kunjungi, seorang kader muda Muhammadiyah mengungkap sepenggal ceritanya penuh sedu sedan haru nyaris menangis, dimana suatu hari ketika pulang dari kegiatan Pemuda Muhammadiyah dan tiba dirumah setelah tiga hari tidak pulang karena mengikuti kegiatan perkaderan Diklatsar KOKAM, ditemuinya sang istri yang saat itu sedang bekerja di dapur. Sahabat tersebut kemudian membuka tutup saji saking lapar yang teramat sangat. Tapi betapa kagetnya saat itu bukan makanan yang didapatnya, tetapi justru ‘Seragam KOKAM yang kotor’ tergeletak diatas meja makan. Dia kemudian menatap istrinya tanpa berkata apapun dengan perasaan yang diliputi rasa heran, dan tanpa disangka-sangka secara tiba-tiba sang istri berkata dengan suara keras “MAKAN TUH SERAGAM KOKAM.” Teriak istrinya lengkap dengan wajah cemberut. Sahabat saya itu tidak berkata apapun selain tertunduk dan termenung.
Ini sepenggal cerita yang dirangkai dalam bentuk tulisan singkat oleh Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, dimana ada pesan tersirat dalam cerita ini.

Rasa bangga sekaligus sedih tanpa harus menyalahkan perempuan–perempuan hebat yang sudah ikhlas menemani seluruh kader ummat Pemuda Muhammadiyah yang ada di pelosok negeri ini dan sekaligus kagum kepada mereka (Istri-Istri Kader Pemuda Muhammadiyah) karena mampu bertahan dengan segala keterbatasan dan cinta yang teramat sangat terhadap gerakan dan persyarikatan, bahkan tak sedikit hak-hak Anak dan Istri seperti waktu dan materi mereka “terampas”.

Rasa bangga, Ya bangga, hal itu disebabkan Pemuda Muhammadiyah diurusi oleh orang-orang yang memiliki dedikasi yang sangat tinggi, kecintaannya terhadap kejayaan Islam tak diragukan, dan keihklasannya menggerakkan lembaga tak perlu dipertanyakan lagi. Gerakan ini beruntung memiliki kader-kader yang memiliki militansi yang didasarkan atas dasar keimanan dan kecintaan terhadap NKRI yang secara totalitas siap mengorbankan nyawa dan hartanya demi kejayaan Islam di muka bumi ini. Rasa sedih, ya sedih, karena masih banyak kader-kader Pemuda Muhammadiyah yang masih memiliki keterbatasan Ekonomi, bahkan tidak jarang bisa disebut berkekurangan (Dilan bilang “ POPE” dalam bahasa lokal Bolaang Mongondow), namun hal ini tidak pernah menjadi alasan mereka untuk menghidup-hidupkan dakwah islam melalui Muhammadiyah.

Awal berdirinya Pemuda Muhammadiyah secara kronologis dapat dikaitkan dengan keberadaan Siswo Proyo Priyo (SPP), suatu gerakan yang sejak awal diharapkan dapat melakukan kegiatan pembinaan kepada Remaja/Pemuda, perhatian K.H. Ahmad Dahlan kepada para pemuda sangat istimewa, sebab pemuda-pemuda kauman kala itu terkenal sangat bandel dan pada akhirnya pemuda ini berhasil didekati dengan baik oleh sang kiyai kemudian menghimpun mereka dalam satu perkumpulan yang diberikan pendidikan agama dan budi pekerti serta keterampilan. Pada tanggal 26 Zulhijjah 1350 Hijriah bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1932 secara resmi Pemuda Muhammadiyah  berdiri sebagai salah satu ortom di Muhammadiyah, Gerakan Pemuda Muhammadiyah sangat dinamis, dimana keberadaannya untuk menghimpun, membina, dan menggerakkan potensi pemuda Islam demi terwujudnya kader persyarikatan, kader ummat dan kader bangsa demi mencapai tujuan Muhammadiyah sebagai basis gerakan ideologi bangsa.

Menurut penulis, Muhammadiyah mencoba meletakkan pondasi ideologi bangsa dengan menawarkan beberapa gerakan Islam berkemajuan dibawa panji keindonesiaan secara totalitas, Pertama, tauhid yang murni sebagai sumber kekuatan hidup membentuk manusia yang berjiwa merdeka. Kedua, memahami Alqur’an dan As Sunnah secara mendalam, untuk mendapatkan kemudahan, kelapangan, dan keterbukaan dalam beragama. Ketiga, Melembagakan amal saleh yang fungsional dan solutif, sebagai pancaran iman yang sempurna dan untuk merefleksikan ajaran islam sebagai ajaran Rahmatan Lil ‘alamin. Keempat, berorentasi kekinian dan masa depan, dalam artian memahami dengan baik realitas kekinian untuk merancang masa depan yang baik. Kelima, bersikap toleran, moderat dan suka bekerja sama, sehingga Muhammadiyah mudah diterima dimana-mana.

Semangat pembentukan Pemuda Muhammadiyah sampai ke pelosok-pelosok negeri ini pun juga dirasakan oleh segelintir pemuda yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow, dimana Kabupaten Bolaang Mongondow secara khusus dan Bolaang Mongondow Raya pada Umumnya, merupakan basis gerakan Islam yang ada di Provinsi Sulawesi utara. Sehingga dengan tekad yang kuat oleh pemuda-pemuda Islam yang ada kala itu berhasil berhimpun dalam satu gerakan pemuda berbasis ideologi Islam, dan sekitar tahun 2006, Pemuda Muhammadiyah kabupaten Bolaang Mongondow berhasil dibentuk, kendati secara resmi dibentuk namun lembaga ini berjalan tertatih dan kegiatannya tak bisa dipisahkan dengan kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. Hingga di awal tahun 2017, Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Bolaang Mongondow kembali BANGKIT dari tidur nyenyaknya yang sempat Vakum sekitar 10 tahun lamanya, dan kini semangat pemuda itu kembali bergelora di pelosok pelosok desa yang ada di Kabupaten Bolaang Moongondow, dengan menjadi bagian yang tidak terpisahkan NKRI dengan didasari oleh semangat perjuangan Islam dan kemajuan Daerah ini, sebagai bentuk Relasi antara Muhammadiyah, Islam, dan Negara. Gerakan Pemuda Muhammadiyah Bolaang Mongondow pastinya tidak terlepas dari gerakan pembaharuan islam modern yang merupakan mata rantai dari gerakan Tajdid (Pembaharu), Gerakan Modernisme Islam, dan Gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang di implementasikan dengan mendirikan amal-amal usaha dalam segala lini kehidupan masyarakat.

Di akhir tulisan ini, penulis menegaskan bahwa cita–cita besar Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Bolaang Mongondow merupakan hal yang niscaya dan menjadi tanggungjawab Kader Pemuda Muhammadiyah Bolaang Mongondow, bersama elemen-elemen lembaga pemuda lainnya, baik berbasis Islam maupun Nasionalis akan selalu melakukan senigergitas gerakan dalam mengawal NKRI pada umumnya dan mengawal Pembangunan Daerah pada khususnya demi terwujudnya kesejateraan masyarakat Bolaang Mongondow, Penguatan Kualitas Sumber Daya Manusia, Pendidikan dan Kesehatan yang berbasis pada kemanusiaan serta Mengawal Pemerintahan yang berbasis pada pemerintahan Yang adil/Masyarakat Madani dan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab serta  berkeadilan.

BANGKITLAH PEMUDA MUHAMMADIYAH.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here