Beranda Edukasi Seminar Nasional “Alarm Krisis Iklim” Bangunkan Generasi Muda di Unsrat Manado

Seminar Nasional “Alarm Krisis Iklim” Bangunkan Generasi Muda di Unsrat Manado

585
0
BERBAGI

MANADO, LensaSulut.com – Krisis iklim telah mengetuk pintu rumah Indonesia karena bukan lagi sekadar wacana global. Di tengah ancaman deforestasi, polusi, degradasi lahan hingga punahnya keanekaragaman hayati, kaum muda disebut sebagai harapan terakhir bumi.

Kesadaran inilah yang melatarbelakangi digelarnya Seminar Nasional dan Diskusi Tematik bertajuk “Alarm Krisis Iklim dan Dialog Kaum Muda”, Senin, 20 Oktober 2025, bersama sejumlah narasumber, di Auditorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.

Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi Institut Hijau Indonesia, FOLU NC-1, serta Pusat Studi ASEAN LPPM Universitas Sam Ratulangi. Sejumlah narasumber hadir memberikan pandangan, edukasi, sekaligus alarm bagi generasi muda untuk lebih peka terhadap krisis lingkungan.

Dalam sambutannya, Koordinator Pusat Studi ASEAN LPPM Unsrat, Dr. Ridwan Lasabuda, menegaskan bahwa dunia saat ini sedang berada dalam fase yang disebut para ilmuwan sebagai decade of urgency (dekade genting bagi kelangsungan bumi). “Musim tak lagi bisa ditebak, laut memanas, udara makin sesak, dan hutan-hutan perlahan menghilang dari peta kehidupan. Ini bukan sekadar berita di televisi, tapi kenyataan yang kita alami sendiri,” ujarnya.

Ridwan mencontohkan kondisi di Sulawesi Utara. Nelayan mulai kehilangan hasil tangkapan karena arus laut berubah, para petani kesulitan menentukan musim tanam, sementara kota-kota semakin sering diterpa banjir dan cuaca ekstrem. Aktivitas tambang ilegal turut mempercepat kerusakan alam.

Meski begitu, ia menegaskan harapan masih ada. “Kita tidak sedang menunggu akhir, melainkan dipanggil untuk berubah. Alarm bukan untuk ditakuti, melainkan untuk membangunkan. Dan siapa yang paling pantas bangun lebih dulu kalau bukan generasi muda?”

Mengutip Environmental Outlook 2024, Ridwan menyebut lebih dari 28 ribu anak muda Indonesia telah menyuarakan keresahan tentang sampah, deforestasi, pencemaran, hingga perubahan iklim. “Kesadaran itu sudah tumbuh. Yang kita butuhkan sekarang adalah arah dan ruang supaya kesadaran itu berubah menjadi gerakan nyata,” terangnya.

Menurutnya, forum seperti seminar ini penting sebagai ruang dialog setara antara mahasiswa, akademisi, dan pembuat kebijakan untuk merumuskan solusi bersama. Ia juga mengingatkan bahwa krisis iklim bukan hanya soal sains, melainkan tentang cara manusia memandang dunia dan menghargai kehidupan.

Menutup sambutannya, Ridwan mengajak mahasiswa untuk tidak berhenti pada diskusi. “Bawalah pulang ide, semangat, dan rasa tanggung jawab dari sini. Bentuk komunitas, lakukan aksi nyata. Bumi tidak menunggu kita siap, tapi bumi menunggu kita mulai,” pungkasnya.
(*/jefry)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here