Beranda Edukasi Jalan Rusak, Guru Rela Bertaruh Nyawa Demi Tanggungjawab Mengajar.

Jalan Rusak, Guru Rela Bertaruh Nyawa Demi Tanggungjawab Mengajar.

1197
0
BERBAGI
Kondisi jalan yang sering di lalui Lismawati dan rekan-rekannya.

BOLTIM, lensasulut.com – Minimnya infrastruktur jalan jembatan dan sarana prasarana lainnya di daerah pedalaman, menuai cerita-cerita inspiratif. Salah satunya tergambar lewat kisah perjuangan tenaga kependidikan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Demi mencerdaskan masyarakat (bangsa), sekira 13 guru rela mempertaruhkan nyawa. Dimana, setiap berangkat untuk mengajar, mereka (guru-red) harus menempuh rute maut menuju Desa Badaro Kecamatan Modayag.

Salah satu guru di SDN 1 Badaro, Lismawati Mokoginta menuturkan, keselamatan dirinya sering jadi taruhan setiap berangkat ke sekolah tempatnya mengajar. Dengan menggunakan kendaraan bermotor, dia harus melewati jalan rusak dan rawan longsor. Jarak tempat tinggalnya dengan sekolah sekitar 34 Km. Jiwanya pun terancam, apalagi di saat musim hujan. Hampir seluruh badan jalan di rute itu tergenang air. Bahkan, tak jarang melewati lobang besar yang dipenuhi lumpur pekat. Sehingga, untuk menghindari kecelakaan, dia dan rekan guru lainya terpaksa berjalan kaki.

“Saya sangat berharap kepada pemerintah untuk segera memperbaiki akses jalan ini. Mengingat ujian nasional semakin dekat, yakni tanggal 4,5,6 di desa Lanud. Kemudian sebentar lagi akan dilaksanakan ulangan penaikan kelas,” pinta tenaga guru asal  Bilalang ini.

Lismawati Mokoginta.

Terkait dengan itu, Kepala Dinas Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Boltim, Sahrul Abdul Muis mengatakan, semua ada kewenangan masing-masing. Setiap jalan nasional, provinsi dan kabupaten ada yang berwenang. Untuk rute Kotobangon, Moyag dan Modayag kata Muis, itu kewengan Balai Jalan Nasional. Jalan Tobongon, perempatan Modayag sampai Motongkad, itu kewenangan provinsi.

“Sedangkan kewenangan kabupaten, yaitu jalan-jalan yang kita bangun,” jelas muis.

Menurutnya, semua pihak berwenang punya tanggung jawab masing-masing. Meski, rute yang mengancam nyawa guru-guru itu tanggung jawab provinsi kata dia, pihaknya tidak tinggal diam. Sebab, masyarakat Boltim yang kena dampaknya. Setidaknya lanjut Muis, Pemerintah Kabupaten Boltim dapat menyampaikan informasi tersebut ke Provinsi Sulawesi Utara.

“Kami boleh mengerjakan jalan itu. Akan tetapi, siapa yang membiayainya?” ketus Muis penuh tanya.

“Di sini perlu adanya pemahaman masyarakat. Tidak semua jalan yang ada di Boltim, menjadi kewenagan kabupaten,” sambung Muis. (rey)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here